HomeBerita Hari iniPeran Pers dalam Deradikalisasi

Peran Pers dalam Deradikalisasi

Berita Hari ini 0 2 likes 184 views share

BATU – Kasubag Humas Polres Batu Ipda Ivandi Yudistiro bersama Ipda Totok mewakili Kapolres Batu AKBP Harviadhi Agung Prathama , menjadi narasumber tentang peran pers dalam deradikalisasi, bersama mahasiswa sekolah Jurnalistik, yang dihelat di Rumah Baca Cerdas Institute Malang di Jl Puncak Borobudur ,Kota Malang, Minggu ( 17/11/2019).

Menurut Ivandi, aksi terorisme membuat rasa takut dan ketidakstabilan negara.Untuk itu, peran pers dinilai penting untuk ikut andil mengurangi edeologi terorisme berkembang.Karena terorisme adalah membuat rasa takut dan ketidak stabilan negara,maka dari itu, pesan Ivandi.

“Jangan ambil bagian jadi penyebar hoax, kami tidak takut, dan kita  bersatu melawan terorisme. Indonesia bersaru melawan segala aksi terorisme ,” katanya.Dengan begitu, kata dia, peran pers dalam deradikalisasi. Deradikalisasi adalaah upaya untuk mengubah edeologi pemikiran dan pemahaman seseorang yang semula radikal memjadi tidak lagi radikal, selain itu.

” Artikata terorisme, perbuaatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan,yang menimbulkan suasana teror atau terasa takut secara meluas menimbulkan korban yang bersifat massal,” paparnya.

Itu papar dia, atau menimbulkan kerusakan atau kehamcuran terhadap objek – objek  vital yang strategis , lingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas  Internasional, untuk itu, tugas Polri.

” Dalam memberantas terorisme, pembetukan Detasemen Khusus Anti Teror 88 Polri.

Itu berdasarkan intruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2002 tentang tindak pidana terorisme.

Hal tersebut,sebagai pengganti undang – undang No 1 dan 2 Tahun 2002 ,” tandasnya.

Darisebab itu, Ivandi mengaku radikalisme dimasyarakat dan kalangan pelajar mahasiswa, menjadi ‘ancaman serius.Untuk itu; menurut Ivandi, topik radikalisme dikalangan mahasiswa mulai marak diperbincamgkan, dan.

” Negarapun harus mulai serius menghentikan  benih – bebih paham radikalisme didunia pendidikan , khususnya Perguruan Tinggi.


Karena sikap radikalisme mulai terbuka , bahkan gejala radikalisme mulai terlihat dengan pernyataan sikap mahasiswa secra terbuka'”  terangnya. Itu terang dia, disalah satu kampus negeri terdapat pernyataan sikap mendukung kelompok radikalisme, makadari itu, kita harus mengenal ciri ciri gerakan radikalisme.

” Berdasarkan keterangan dari Yusuf Qordawi,  bahwa kelompok radikal agama dapat dicirikan oleh beberapa karakter , antara lain.Mengklaim kebenaran tungal dan mengutamakan ibadah secara penampilan dan jihadis .Menggunakan cara – cara  kekerasan, dan mudah mengkafirkan orang lain, serta  tertutup dengan masyarakat dan politik,” timpalnya.

Diwaktu yang sama, Ipda Totok menambahkan, terkait media penyebaran paham radikalisme, beberapa alternatif media yang digunakan untuk menyebarkan paham radikalisme antara lain,

“Pendekatan personal forum Diskusi, media publikasi intrnet.Sedangkan issu penyebaran radikaosme, melalui doktrin keradikalan, perubahan ekonomi, ancaman Intenasional hingga Agama,” jelasnya. Sedangkan indikasi radikalisme Kampus,lanjut dia, berdasarkan dari Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian ( LKIP) UIN , Syraif Hidayatullah Jakarta pada Oktober 2010 silam, hinnga januari 2011, menemukan.

” Bahwa terungkap hampir ada 50 persen, pelajar setuju tindakan kekersan berdasarkan  radikalisne.Gejala itu terjadi khususnya dikalangan mahasiswa kampus kampus umum atau sekelompok yang tidak berlandasan agama,” tegasnya. Lantas, tegas dia, indikasi radilakisme dari hasil penelitian  Infid  bersama Gusdurian menemukan bahwa sebesar 11, 8 persen pemuda setuju dengan kelompok agama yang sering melakukan akan kekerasan itu, selain itu, menurut Totok.

” Hasil dari penelitian  BNPT Persetujuan Jihad Usia Muda, pada Tahun 2016, silam BNPT menemukan bahwa gejala radikalisme sudah mulai menyebar dikalangan Mahasiswa.


Dalam survei nya kepada pemuda ditemukan bahwa ada 26 , 7 persen setuju dengan jihad menggunakan kekerasan,” katanya.

Darisebab itu, kata dia, indikasinya radikalismenya di Kampus, pada riset BNPT  pada April 2017, menemukan bahwa gejala radikalisme sudah mulai menyebar dikalangan mahasiswa. ” Dalam survei nya terhadap para mahasiswa di 15 Provinsi di Indonesia ditemukan bahwa ada sejumlah 39 persen Mahasiswa tertarik untuk masuk keorganisasi radikal mengganti ideologi negara,” urainya.

Olehkarena itu, Totok mengaku peran pers, penting dalam upaya deradikalisasi pelaku terorisme, alasannya. ” Agar mengurangu ideologi terorisme yang lagi berkembang.Maka dapat membangun kesadaran dan kemampuan masyrarakat  disegala lapisan untuk menyadari bahaya terorisme  sehinga terorisme tidak berkembang,” harapnya.

Selain itu, harap dia, membangun kemampuan masyarakat untuk tidak terpengaruh  indoktrinasi terorisme, sehinga terorisme tidak berkembang.” Melalui pemberitaan, tulisan, opini dan di sosmedia, itu semua  perlu diarahkan .Unuk menjaga pola pikir masyarakat tidak terbawa arus doktrinissi terorisne,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *